Simply Suhandy

Saturday, April 14, 2007

Book Review: The Street Lawyer

Judul Buku: The Street Lawyer
Pengarang: John Grisham
Penerbit: Dell Fiction, 1998, soft cover
Dimensi: 5 x 8 inch, 452 halaman
Genre: Fiksi, hukum
Setting: Washington D.C.
Readibility: Mudah dibaca. Beberapa jargon dalam hukum.


Buku ini adalah buku John Grisham yang ke-9. Tema utama dari buku ini berkisar pada ketidakadilan dan penderitaan yang dialami oleh masyrakat jalanan yang tidak mempunyai tempat tinggal. Bagaimana sistem pemerintah dan sosial semakin memperosok kondisi mereka, sehingga ribuan orang harus menetap di jalanan di sepanjang bulan Februari yang dingin di Washington, dengan suhu waktu malam bisa mencapai 0 derajat Fahrenheit (bukan Celsius!).

Tokoh utama dari novel ini adalah Michael, seorang lawyer(jaksa/pengacara) muda dalam usia 32 tahun. Seperti kebanyakan orang Amrik, dan mungkin orang singapore, dia tenggelam dalam rat-race mengejar status dan uang, bekerja 80 jam seminggu, memperbesar kesenjangan hubungan dengan istri hingga akhirnya gagal, mengejar prestisi dan segala macam kenikmatan hidup yang ada, tanpa memikirkan kapan dia bisa menikmatinya.

Suatu peristiwa terjadi merubah hidup Michael. Secara total. Seorang gelandangan (Mister) dengan senapan curian menyandera dia bersama dengan 8 orang koleganya. Kehidupan seorang lawyer, dengan meja designer, karpet oriental, gaji ratusan ribu dolar setahun, biaya makan siang ratusan dolar, baju designer, dikontraskan dengan gelandangan yang tidak punya tempat tinggal, tidak berpekerjaan, pakaian bekas dan kotor, dan makanan dari sedekah orang. Dari 9 orang sandera dengan penghasilan total 3 juta lebih setahun, ternyata tidak ada sepeser pun yang pernah disumbangkan ke badan sosial yang membantu orang jalanan. Ketika seorang polisi menembakkan sebutir peluru ke kepala Mister, dan menumpuhkan darah serta cairan otak ke seluruh badan Michael yang berdiri di belakangnya, di situlah titik perubahan hidup Michael.

Ketika seseorang berpapasan dengan kematian yang begitu dekat, hidupnya berubah. Apa yang akan terjadi apabila peluru tadi memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke kepala Michael? Apa yang Mister mau dari penyanderaan tersebut? Michael adalah seorang yang pintar, dan ingin mencari tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Apakah yang Mister inginkan? Dia ingin tau siapa yang bertanggung jawab sehingga dia terpaksa tinggal di jalanan. Dia belum sempat menanyakan pertanyaan tersebut sebelum dia ditembak mati.

Dia bertemu dengan Mordecai, seorang Street Lawyer, atau pengacara khusus untuk orang jalanan. Mordecai kenal dengan 'Mister', dan memberikan pengenalan kepada Michael (serta para pembaca) tentang kehidupan orang2 jalanan. Tidur di jalanan, di kolong jembatan, di dalam mobil rongsokan, antri makan di dapur umum, kerja (bagi yg beruntung) dengan upah minimum, mengemis, pelacuran, penjualan dadah, kekerasan, pemerkosaan, penipuan oleh majikan yang tidak mau membayar gaji, kehamilan, ketagihan narkotik, konselling2 center atau gereja untuk penampungan, dan lain-lain.

Mordecai dan banyak Pengacara Jalanan lainnya bekerja memperjuangkan hak-hak orang-orang jalanan tersebut. Hatinya yang terluka melihat semuanya itu, ingin memberikan sesuatu bagi orang-orang jalanan. Apa artinya kalau dia bisa mendapatkan uang jutaan dolar, tetapi setiap hari ada orang yang meninggal karena kelaparan, kedinginan, dan dia tidak pernah melakukan apa-apa untuk mereka?

Di satu pihak: kerja dengan gaji ratusan ribu dolar, tanpa pernah merasakan lapar dan dingin. Di lain pihak kerja bersama dengan Mordecai, potong gaji 75%, berhadapan dengan ratusan gelandangan setiap hari, dengan kemungkinan ditembak di jalanan setiap saat oleh para gelandangan tersebut. Michael memilih untuk turun dari kahyangan dan masuk ke dunia gelandangan untuk membela hak-hak mereka.

Buku ini mengingatkan kepada kita bahwa ketika bisa makan, ada ribuan orang yang sedang kelaparan. Ketika kita sedang tidur, ada puluhan ribu orang yang tidak mempunyai rumah. Apakah hati kita sudah terlalu keras untuk disadarkan akan kondisi masyarakat di sekeliling kita, seperti di Jakarta? Ataukah kita memerlukan satu momen berpapasan dengan kematian, seperti yang dialami oleh Michael untuk sadar bahwa jiwa manusia itu lebih berharga dari uang?

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home

 

Free Blog Counter