Simply Suhandy

Wednesday, June 27, 2007

Book Review: Conquering Insecurities

Judul: Conquering Insecurity - Secrets to a more confident you
Penulis: Deborah Smith Pegues
Penerbit: Harvest House Publishers
Dimensi: Softcover, 231 halaman
Genre: Christian Living
Pemilik Buku: Ko Budi (mau pinjam, cari dia hehe)



Di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen, terkadang kita merasa hidup kita kok ga maksimal. Ada banyak hal, yang kita tau kita bisa lakukan lebih, tetapi nyatanya kita selalu gagal mencapai target tersebut. Adakah hal-hal yang menghalangi kita untuk mencapai potensi kita sepenuhnya? Apa yang membuat kita menjadi tidak secure di dalam Tuhan?

Di dalam buku ini, penulis mencoba menguraikan 7 gejala Insecurity yang ada melalui contoh di dalam alkitab. Salah satu contohnya seperti raja Saul yang merasa insecure, karena Daud ternyata lebih dipuja oleh masyarakat ketika dia membunuh Goliath. Kecemburuan dia terhadap Daud membuat dia menjadi dia merasa terancam dan tidak percaya diri.

Di dalam buku ini juga dibahas 7 road block untuk mencapai kepercayaan diri, 7 strategi untuk hidup mengatasi insecurity, dan 7 kebiasaan orang-orang yang secure, pokoknya serba 7 deh, kan ceritanya angka 7 itu sempurna.

Pada kenyataannya, tidak ada satu orang pun yang bisa mengatakan kalau dirinya 100% secure, mungkin Tuhan Yesus saja yang bisa. Karena ini buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh semua orang. Biarpun saat ini anda merasa secure, suatu hari nanti, ketika sesuatu menimpa anda, mungkin apa yang anda pelajari di buku ini akan bisa membantu.

Labels:

Monday, June 25, 2007

Mira W: Dari Jendela SMP




Buku ini adalah novel indo pertama yang saya baca. Teringat dulu, ketika membaca buku tersebut waktu masih SMP atau SMA (sudah lupa). Sekarang kondisinya sudah parah, 50 halaman pertama hilang entah kemana. Tetapi ketika saya membabat habis hampir 300 halaman sisanya, tetap seru :)


"Dari jendela SMP" menjelaskan kisah cinta antara Joko dan Wulan, dua anak SMP kelas 3, yang sama-sama menjadi murid teladan, tetapi Wulan anak orang kaya, sedangkan Joko anak babu, dan bukan cuma itu, dia anak haram karena tidak mempunyai ayah. Twist yang mengejutkan di akhir adalah, ternyata kepala sekolah yang dikaguminya sedemikian rupa ternyata adalah ayahnya sendiri.

Selain pergumulan yang berkisar di pergumulan para remaja pada umumnya, penulis juga berusaha memaparkan dua pandangan masyarakat terhadap pendidikan sex yg berbeda. Satu sudut pandang mengatakan pelajaran itu tabu, sedangkan satu sisi lagi ingin mendidik agar remaja2 tau dan bisa menjaga diri. Toh pada akhirnya mereka akan mencari tahu sendiri melalui night club, buku porno ataupun film mesum.

Secara jelas, penulis menempatkan dirinya di posisi yang merasa pendidikan sex itu perlu buat anak remaja, karena kedua murid teladan secara tidak sengaja, tanpa sadar, telah melakukan hubungan 'terlarang' tersebut. Dan akibatnya Wulan menjadi hamil ketika masih SMA kelas 1.

Penulis juga berhasil menyampaikan satu ide penting, bahwa apabila orang tua makin melarang suatu hubungan, maka remaja yang lebih 'rebellious' akan menjadi 'backstreet' dan sembunyi-sembunyi, dan hasilnya bisa lebih parah lagi.


===== Kesan setelah membaca ulang buku ini =====
1. Jauh lebih mengerti isi buku karena sudah banyak mengerti bahasa prokem dari Jakarta
2. Jauh lebih mengerti perasaan cinta yang dilukiskan oleh penulis, karena sudah mengalami
3. Yang lucu, ketika membaca bagian yang melukiskan perasaan dari tokoh utama, terutama Wulan, yang terngiang2 di telinga adalah suara si 'ica' di gereja :). Impressi 'ica' membaca puisi di depan itu sangat menyentuh ternyata :)

Labels:

Saturday, April 14, 2007

Book Review: The Street Lawyer

Judul Buku: The Street Lawyer
Pengarang: John Grisham
Penerbit: Dell Fiction, 1998, soft cover
Dimensi: 5 x 8 inch, 452 halaman
Genre: Fiksi, hukum
Setting: Washington D.C.
Readibility: Mudah dibaca. Beberapa jargon dalam hukum.


Buku ini adalah buku John Grisham yang ke-9. Tema utama dari buku ini berkisar pada ketidakadilan dan penderitaan yang dialami oleh masyrakat jalanan yang tidak mempunyai tempat tinggal. Bagaimana sistem pemerintah dan sosial semakin memperosok kondisi mereka, sehingga ribuan orang harus menetap di jalanan di sepanjang bulan Februari yang dingin di Washington, dengan suhu waktu malam bisa mencapai 0 derajat Fahrenheit (bukan Celsius!).

Tokoh utama dari novel ini adalah Michael, seorang lawyer(jaksa/pengacara) muda dalam usia 32 tahun. Seperti kebanyakan orang Amrik, dan mungkin orang singapore, dia tenggelam dalam rat-race mengejar status dan uang, bekerja 80 jam seminggu, memperbesar kesenjangan hubungan dengan istri hingga akhirnya gagal, mengejar prestisi dan segala macam kenikmatan hidup yang ada, tanpa memikirkan kapan dia bisa menikmatinya.

Suatu peristiwa terjadi merubah hidup Michael. Secara total. Seorang gelandangan (Mister) dengan senapan curian menyandera dia bersama dengan 8 orang koleganya. Kehidupan seorang lawyer, dengan meja designer, karpet oriental, gaji ratusan ribu dolar setahun, biaya makan siang ratusan dolar, baju designer, dikontraskan dengan gelandangan yang tidak punya tempat tinggal, tidak berpekerjaan, pakaian bekas dan kotor, dan makanan dari sedekah orang. Dari 9 orang sandera dengan penghasilan total 3 juta lebih setahun, ternyata tidak ada sepeser pun yang pernah disumbangkan ke badan sosial yang membantu orang jalanan. Ketika seorang polisi menembakkan sebutir peluru ke kepala Mister, dan menumpuhkan darah serta cairan otak ke seluruh badan Michael yang berdiri di belakangnya, di situlah titik perubahan hidup Michael.

Ketika seseorang berpapasan dengan kematian yang begitu dekat, hidupnya berubah. Apa yang akan terjadi apabila peluru tadi memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke kepala Michael? Apa yang Mister mau dari penyanderaan tersebut? Michael adalah seorang yang pintar, dan ingin mencari tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Apakah yang Mister inginkan? Dia ingin tau siapa yang bertanggung jawab sehingga dia terpaksa tinggal di jalanan. Dia belum sempat menanyakan pertanyaan tersebut sebelum dia ditembak mati.

Dia bertemu dengan Mordecai, seorang Street Lawyer, atau pengacara khusus untuk orang jalanan. Mordecai kenal dengan 'Mister', dan memberikan pengenalan kepada Michael (serta para pembaca) tentang kehidupan orang2 jalanan. Tidur di jalanan, di kolong jembatan, di dalam mobil rongsokan, antri makan di dapur umum, kerja (bagi yg beruntung) dengan upah minimum, mengemis, pelacuran, penjualan dadah, kekerasan, pemerkosaan, penipuan oleh majikan yang tidak mau membayar gaji, kehamilan, ketagihan narkotik, konselling2 center atau gereja untuk penampungan, dan lain-lain.

Mordecai dan banyak Pengacara Jalanan lainnya bekerja memperjuangkan hak-hak orang-orang jalanan tersebut. Hatinya yang terluka melihat semuanya itu, ingin memberikan sesuatu bagi orang-orang jalanan. Apa artinya kalau dia bisa mendapatkan uang jutaan dolar, tetapi setiap hari ada orang yang meninggal karena kelaparan, kedinginan, dan dia tidak pernah melakukan apa-apa untuk mereka?

Di satu pihak: kerja dengan gaji ratusan ribu dolar, tanpa pernah merasakan lapar dan dingin. Di lain pihak kerja bersama dengan Mordecai, potong gaji 75%, berhadapan dengan ratusan gelandangan setiap hari, dengan kemungkinan ditembak di jalanan setiap saat oleh para gelandangan tersebut. Michael memilih untuk turun dari kahyangan dan masuk ke dunia gelandangan untuk membela hak-hak mereka.

Buku ini mengingatkan kepada kita bahwa ketika bisa makan, ada ribuan orang yang sedang kelaparan. Ketika kita sedang tidur, ada puluhan ribu orang yang tidak mempunyai rumah. Apakah hati kita sudah terlalu keras untuk disadarkan akan kondisi masyarakat di sekeliling kita, seperti di Jakarta? Ataukah kita memerlukan satu momen berpapasan dengan kematian, seperti yang dialami oleh Michael untuk sadar bahwa jiwa manusia itu lebih berharga dari uang?

Labels:

Friday, February 02, 2007

Resensi: Out of the comfort zone by George Verwer

Judul: Out of the comfort zone
Ukuran: 11cm x 18cm, 152 halaman
Genre: Mission
Publisher: OM Publishing tahun 2000
Pemilik buku: Suhandy (kalo mau pinjam, bisa hubungin pengurus KP)

Tentang penulis:
George Verwer adalah founder dan international director dari Operation Mobilisation (OM). Buat yang belum mengenal OM, mungkin sudah pernah mendengar kapal Doulos. Kapal Doulos adalah salah satu bentuk pelayanan/ministry dari OM.


Buku ini adalah buku yang lumayan ringan untuk dibaca. Akan tetapi pesan yang disampaikan bobotnya tidak sedikit. Setelah membaca buku ini dijamin attitude terhadap misi anda dapat diubah secara drastis. Terutama buat yang ingin tau lebih banyak tentang dunia misi, buku ini sangat direkomendasi.

Seperti judul buku, kebanyakan kita orang kristen sudah 'nyaman' dengan comfort zone kita. Bagaikan lilin2 yang menyala terang, tetapi berdiam di tengah2 lilin2 yang lain. Terang menerangi terang, apa gunanya? Bukankah kegelapan di luar sana yang memerlukan terang dari lilin tersebut?

Dalam ukurannya yang kecil, buku ini sangat comprehensive dalam membahas outline2 yang perlu diketahui tentang misi. Ada penjelasan tentang konflik di dalam dunia misi itu sendiri, apa artinya menjadi 'saksi' bagi Kristus. Tidak mesti kita harus menjadi missionaris, tetapi yang pasti semua orang mesti terbeban untuk terlibat dalam misi dalam satu bentuk atau bentuk yang lain. Banyak orang yang ingin bermisi, tetapi tidak punya uang. Apa yang harus dilakukan?
Akhir kata, buku ini mungkin bukan buku yang paling enjoyable, jadi tidak bisa dibandingkan dengan buku2 Philip Yancey yang lebih gampang dicerna. Tetapi buku ini cukup simple dan berisi informasi seadanya untuk orang2 yang pengen tau tentang misi. Buat yang ingin mendalami, buku ini sarat dengan referensi ke buku2 lain yang bisa membantu.

Tuhan memberkati,
Suhandy

Labels:

Wednesday, January 17, 2007

Resensi: The Screwtape Letters by C.S. Lewis

Pemilik buku: Philips, dipinjam melalui program sharing buku Komisi Pemuda
Judul buku: The Screwtape Letters
Penulis buku: C. S. Lewis (Jack) pertama kali dicetak tahun1942

Buku ini adalah salah satu buku Kristen yang paling 'sulit' yang pernah saya baca. Sulit dalam arti bahasa Inggrisnya yg dalam, dan pola pikirnya yang harus diikuti dengan seksama. Tetapi buku ini juga adalah salah satu buku yang paling 'menusuk' dalam menampilkan doktrin dan dosa, yang dialami oleh manusia pada umumnya.

Dari judul buku, buku ini adalah kumpulan surat2 yang ditulis "Screwtape", iblis senior, yang ditujukan kepada "Wormwood", iblis junior yang baru lulus kuliah dan sedang 'praktikum' dibumi memenangkan (atau lebih tepatnya menjatuhkan) roh kepada kutukan yang kekal.

Sang iblis senior memberikan tips2 bagaimana menjauhkan 'pasien' dari Tuhan, baik melalui pergaulan dengan orang2 lain, hubungan dengan ortu, kehidupan doa, juga dalam memilih pasangan hidup. Singkat cerita, iblis junior tersebut gagal, dan 'pasien'nya yang telah menjadi Kristen akhirnya mati dalam serangan bomb Jerman (dan rohnya langsung masuk surga).

Bagian yang paling menarik dari buku ini adalah, ketika kondisi si 'Pasien' diceritakan, saya selalu bisa membayangkan bahwa saya adalah Pasien tersebut. Mungkin karena apa yang diceritakan semuanya sudah pernah saya alami, dan justru karena itulah pesan (negatif) yang disampaikan melalui surat iblis tersebut begitu mengena.

Bagi yang sudah membaca buku CS Lewis yang lain (Chronicles of Narnia) akan menemukan bahwa di dalam buku ini juga tersirat banyak doktrin/teologia yang dalam. Membaca buku ini sekali lewat tidak akan bisa menyerap semua essensi yang ada di buku ini. Tidak salah, kalau buku ini termasuk ke dalam top 100 buku kristen yang paling influential zaman sekarang.

**Highly Recommended**

Labels:

Saturday, January 13, 2007

Maximize your memory... (1)

Jumat, 12 Januari 2007

Off day, hari hujan, tidak ngantor hari ini.
Hari ini tidak ke kantor, karena sedikit malas, dan juga untuk clear hari liburku yang harus dihabiskan bulan januari. Sabtu dan Minggu bakal penuh untuk rapat di gereja, jadi saya mikir lebih baik istirahat/sabatnya hari jumat aja.

Di rumah, selain tiduran, baca2 buku tentang bagaimana mengembangkan memori atau daya ingat manusia. Menarik juga, ternyata daya ingat kita itu bisa dipacu sedemikian rupa, sehingga kita bisa mengingat ratusan angka sekaligus dan recall ...

Kata kuncinya adalah imagination. Kita harus mengkhayal dan membayangkan. Jadi orang yg lebih pinter mengkhayal, akan lebih mudah mengingat.

contohnya, rentetan barang2 ini yang ada di meja saya: Mouse, HP, Remote Control, Speaker, Bebek Kuning, Eye drop, Wireless Adapter, MP3 player, buku tips bercerita, bill dari bank. Seandainya hanya melihat kata2 yang tertulis saja, maka akan sulit untuk mengingat, apalagi mengingat di urutan yang sebenarnya. Tetapi kalau dikhayalkan sedikit: ..

Ada seekor tikus hitam besar yang bau, baunya menusuk, tiba2 dia berubah menjadi HP ku yang warnanya juga hitam, tetapi mengkilap dan berkilauan. Di samping HP itu, ada satu remote controlku untuk AC yang tiba2 jadi ngaco, bukannya nyalain AC malah nyalahin speaker computerku... Saking ributnya suara dari speaker, bebek kuning disampingku jadi ketakutan dan lari sana sini, dan menabrak obat tetes mataku yang sebesar satu liter. Tumpah, obat tetes matanya dan merusak wireless adapter yang ada disampingnya. Karena ga bisa internet, saya cuma bisa mendengar dari MP3 player yang baru (bayangin ipod nano warna pink), dan sambil membaca buku tips bercerita untuk persiapan tugas di gereja. Baru buku itu dibuka, bill dari Bank jatuh.

Dalam mengingat, memori manusia lebih tertarik pada hal2 yang absurd, hal2 yang menyentuh indra kita (bau, rasa), hal2 yang fantasi (tikus menjadi hp)...

hehe... bagi yang sempat baca blog ini, selamat berlatih dan memperkuat memori anda.... mulai dengan 10 object, 20 object dll...

Salam...

Labels: ,

 

Free Blog Counter