Simply Suhandy

Wednesday, April 04, 2007

Proaktif jadi Provokatif?

Selasa, 3 April 2007

Companyku sudah berdiri kurang lebih 7 tahun. Namun cara kerja oleh orang2 tertentu masih saja tidak masuk akal, attitude semau gue, dan tidak mau mendengar pendapat orang lain. Yang saya maksud adalah boss yang paling gede di company.

Saya selalu berkata, lebih baik bekerja 5 project dibawah managerku sekarang, daripada 1 project dibawah boss gede. Kenapa? karena boss ini selalu menganggap segala sesuatu gampang, over-promise kepada client, menganggap remeh, dan tidak pernah mau mendengar input dari kami. Saya sendiri pernah berantem dengan dia waktu di US dulu.

Nah, baru2 ini kita dapat project baru, di Thailand. Yang handle adalah boss gede. Dalam hati aku dah pikir, ini bakal gawat. Sekalipun saya ga directly involve di project ini, namun sebagai senior, saya concern apakah project ini bisa berjalan dengan baik. Akhirnya bersama dengan junior kita bicarakan detail tentang project ini, bersama managerku, arsitek, dll. Dan akhirnya kesimpulannya adalah project ini sangat rumit, dan akan menguras tenaga banyak dari semua pihak.

Saya pikir: 我不入地獄誰入地獄 (wo3 bu2 ru4 di4 yu4, shei2 ru4 di4 yu4) direct translation: kalau saya tidak masuk neraka, siapa yang masuk neraka. Artinya, kalau benar perlu seseorang yang berkorban, biarlah saya yang berkorban. Ini adalah suatu ajaran buddhisme yang menonjolkan self-sacrifice for the greater good of others. Saya rasa ajaran ini tidak bertentangan juga dengan ajaran kristen.

Jadi, saya bikin satu email panjang, listing tentang masalah yang ada, dan kirim ke semua orang, yang pernah involved di project yang sama, dan ke boss gede itu. Proaktif. Maunya memberikan highlight/concern terhadap masalah yang ada. Namun apa tanggapannya? Boss gede sama sekali tidak menjawab issue yang saya tanyakan, malahan meremehkan tanggapan saya. Merasa apa yang mereka lakukan sudah benar. Senior aku membantuku, dan membalas, bahwa segala sesuatu yang aku katakan itu benar, bahwa pihak project management (baca: boss gede) meremehkan project ini, dan menganggap segala sesuatu itu gampang. Boss gede masih juga ga gitu ngeh kalo mereka itu salah.

Satu kantor jadi heboh, karena email saya yang proaktif, yang bermaksud baik buat company, tetapi buat boss gede, dianggap 'provokatif'. Semua orang di company, mengerti akan niat baikku, tetapi boss gede tidak merasa demikian. Mungkin ini membantuku untuk berhenti dari kerjaan nanti, karena aku bisa menceritakan dengan jelas, bahwa cara kerja company itu tidak benar, dan company yang tidak mau mendengarkan input, tidak akan bisa berkembang.

Saya coba merefleksikan diri sendiri. Seringkali manusia merasa dirinya paling benar. Ketika confidence membuat kita tidak mau mendengarkan input dari orang lain, maka itu sudah menjadi over-confidence. Dan itu akan membawa kita kepada suatu kejatuhan. Ketika ada orang yg mau memberikan kritikan kepada kita, sudikah kita mendengarnya? atau kita malah menganggapnya sebagai sampah atau angin yang lewat telinga begitu saja?

Dalam Lun2 Yu3 (論語), buku Confusius mengatakan﹕ 三人行﹐必有我師 (san3 ren2 xing2, bi4 you2 wo3 shi1), artinya kalau ada 3 orang yang berjalan bersama, pasti ada satu yang menjadi guruku. Dalam berteman, atau bekerja, kita selalu bisa belajar dari orang yang lebih pintar dari kita, tetapi bukan berarti kita tidak bisa belajar dari orang yang lebih jelek dari kita. Kita belajar dari kesalahan, kejelekan orang tersebut, supaya kita tidak melakukan hal yang sama. Dalam hal ini, boss gede juga merupakan guruku, walaupun guru di sisi yang negatif.

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home

 

Free Blog Counter