Simply Suhandy

Sunday, April 01, 2007

MR: Be With You (Japan)

Movie Title: Be With You (2004)
Original Title: Ima, Ai ni yukimasu

Film ini menceritakan tentang kisah cinta yang romantis dan supranatural antara Takumi (Shidou Nakamura) dan Mio(Yuko Takeuchi). Penayangan film sangat simple, manis, tetapi cerita yang sangat menyentuh dan dilengkapi dengan karisma yang dipancarkan oleh Yuko, membuat banyak orang mengalirkan airmata. Tidak salah, film ini menjadi film yang paling banyak ditontoni dalam tahun 2004.

Kisah cinta ini dimulai ketika Takumi dan Mio sedang di masa SMA. Takumi adalah seorang atlit sedangkan Mio adalah akademis yang lumayan pintar. Masing2 menyukai satu sama lain, tetapi tidak pernah mengutarakan rasa sukanya, selain dari ucapan "Ohaioo" setiap pagi. Masing2 merasa kalau cinta yang dirasakan hanya cinta sepihak. Dua tahun berlalu, tanpa menghasilkan buah apa2, selain pena Takumi yang terjepit di buku tahunan Mio.

Setelah tamat Universitas, pena tersebut membawa Takumi dan Mio bersama dalam satu pertemuan, yang difollow up dengan 47 surat cinta. Namun, cinta ini terpaksa dihentikan oleh Takumi yang menderita penyakit saraf yang mempengaruhi kemampuan motoriknya. Mio sangat sedih waktu itu.

Ajaibnya, berapa lama kemudian, Mio menghubungi Takumi lewat telepon. Di tengah taman yang penuh dengan bunga matahari, Mio mengatakan bahwa dia mencintai Takumi, mau menikah dengan dia, dan mereka akan bisa menghadapi masa depan bersama. Dai Jo Bu.

Apa yang terjadi yang membuat Mio bersikap demikian terhadap Takumi? Ternyata, dalam satu adegan ketika Takumi hendak bertemu dengan Mio untuk terakhir kalinya, Mio sempat dilanggar mobil, dan dirinya melompat ke masa depan 9 tahun kemudian. Mio yang masih berusia 20 tahun, melihat dirinya 9 tahun kemudian.

Di masa depan itu, Mio melihat bahwa dia sudah menikah Takumi, dan melahirkan seorang bocah cilik bernama Yuri. Namun, dia tidak mengingat apa2 sama sekali. Ketika menemukan diary dia di dalam satu timecapsule yang dia tanamkan bersama Yuri, dia tau, bahwa dia sudah meninggal setahun yang lalu.

Setahun yang lalu, ketika dia akan mati, dia berjanji dengan Yuri dan Takumi, bahwa tahun depan dia akan kembali bersama mereka sepanjang musim hujan. Tetapi setelah musim hujan berlalu, dia akan pergi. Dia tahu, bahwa 8 tahun sebelumnya dia pernah mengalami hal tersebut, da hal itu akan terjadi, dan itu dia janjikan kepada suami dan anaknya tercinta.

Di dalam masa yang ajaib ini, Yuri dan Takumi sangat senang dan bahagia, menemukan istri dan mama mereka yang sudah meninggal. Mio mengajarkan Yuri bagaimana mengerjakan urusan rumah tangga dengan baik. Mio belajar untuk mencintai Takumi seolah mereka baru pertama kali kenalan. Yang ada dalam keluarga ini hanyalah kebahagiaan yang tidak terlukiskan, tetapi terpancar ke lingkungan kantor dan sekolah.

6 Minggu berlalu dengan cepat, Mio menghilang bersama dengan tetesan terakhir di musim hujan, dan terbangun di ranjang rumah sakit. Di hadapan dia, ada dua pilihan. Dia bisa memilih untuk bertemu dengan Takumi (yg baru saja mengajukan putus dengan dia), menikah dengan dia, mempunyai satu masa depan yang bahagia, keluarga yang bahagia, tetapi singkat. Atau dia bisa memilih untuk mengambil jalan lain, jalan yang tidak dia ketahui, dengan masa depan yang tidak menentu.

Mio, telah merasakan kebahagiaan bersama dengan Takumi dan Yuri. Dia rindu akan kedatangan Yuri dalam hidupnya. Sekalipun masa depan yang dia pilih ini adalah masa depan yang pendek. Tetapi jalan yang dipilih adalah penuh dengan kebahagiaan. Dia memilih untuk mengambil jalan ini.

Refleksi:
Karena cinta, Mio rela mengambil jalan yang menuju ke kematian yang pasti. Karena kasihnya pada suami dan anaknya (yang akan lahir), dia mengambil jalan tersebut.Ketika Tuhan kita Yesus Kristus turun ke dunia, Dia juga tahu bahwa Dia akan mati di kayu salib. Namun Dia rela datang, agar kita dapat dipersatukan kembali dengan Allah Bapa di surga.

Kita tidak mempunyai kemampuan untuk melihat ke masa depan seperti Mio apalagi Tuhan. Tetapi jalan untuk mengikuti Tuhan akan melalui hal2 yang tidak menyenangkan, bahkan menyedihkan. Satu hal yang pasti, kita tahu bahwa Tuhan menjanjikan 'happy ending' buat kita semua. Apakah kita berani untuk mengambil jalan itu?

Labels:

Tuesday, January 16, 2007

Refleksi terhadap film First Fruit

Sedikit refleksi terhadap film "First Fruit" yang sudah kita tonton bersama sabtu yang lalu.

Supaya suatu program atau mungkin kata yang lebih tepat, gerakan misi, dapat berjalan, mungkin first and foremost yang diperlukan bukanlah 'orang' yang mau diutus, atau 'uang' untuk mengutus, tetapi doa. Doa, walaupun merupakan yang paling simple bisa dilakukan semua orang, namun kalo didoakan dengan sungguh2, itu justru merupakan yang terpenting.

Dengan berdoa, maka beban di dalam kita bisa ditumbuhkan. Dengan doa, kita bukan hanya menyerahkan permasalahan (tentang misi) kepada Tuhan, tetapi juga indirectly menyerahkan diri kita untuk menjadi jawaban doa tersebut. Karena itu, hati2 kalau mau ikut persekutuan doa misi... bisa2 anda dipanggil untuk diutus, dan ini serius.

Gereja Moravia terhitung gereja reformasi pertama yang mengirimkan missionarynya ke seluruh penjuru dunia. Bukan satu, bukan sepuluh, tetapi ratusan jumlahnya, sehingga mereka juga disebut sebagai salah satu gerakan misi protestan yang paling awal. Apakah gerakan misi mereka berhasil karena modal nekad aja? atau apakah mereka benar2 sudah mendoakannya?

Pada tahun 1727, di Herrnhut, dimulai suatu gerakan "Prayer Watch", seperti mezbah doa di bukit batok. Namun ada 'sedikit' bedanya. Mezbah doa di bukit batok diadakan sebulan sekali, kamis ketiga, jam 8 sampai jam 9 malam. "Prayer Watch" ini sejak dimulai di musim panas tahun 1727 "TIDAK" berhenti hingga 100 (SERATUS) tahun kemudian (sedikit koreksi dari yang disampaikan ka Lion, bukan 100 hari, tetapi 100 tahun). Dimulai dengan 24 pemuda dan 24 pemudi dari Herrnhut yang memberikan diri untuk berdoa setiap hari sejam, dan role ini dikembangkan dan dipass on terus menerus selama 100 tahun.

1732, 5 tahun setelah "Prayer Watch" berjalan, seperti film yang kita nonton Leonard Dober dan David Hitschmann diutus. 1791 (64 tahun kemudian), dari komunitas Herrnhut sendiri sudah dikirim 300 missionaries ke seluruh penjuru dunia (5 benua). Doa mereka tidak berhenti setelah missionaries mereka yang pertama dikirim, tetapi tetap berjalan untuk mendukung, memotivasi, memurnikan, bahkan menyerahkan diri masing2 untuk misi, sehingga dikatakan bukan hanya yang single saja yang pergi, tetapi juga yang sudah berkeluarga sekalipun.

Bukit Batok, apabila mau menjadi suatu gereja yang bermisi, mungkin harus pertama2 menjadi Bukit Doa terlebih dahulu. Di Quarter misi ini, semoga kehadiran jemaat di Mezbah Doa ataupun di PD Misi dapat makin bertambah.

Labels: ,

 

Free Blog Counter