Simply Suhandy

Tuesday, April 17, 2007

Reformasi kamar tidur

Senin, 16 April 2007

National Heart Center - Periksa Jantung


Pagi ini pergi ke dokter di National Heart Center. Mau periksa ulang jantung. Sejak berapa tahun yang lalu terdiagnosa mempunyai kebocoran di jantung, maka setiap tahun harus kembali untuk cek jantung satu-dua kali. Biayanya ga murah. Kurang dari 5 menit ngomong ke dokter, harganya 60 dolar. Obat untuk setengah tahun sekitar 150 dolar. Untung kali ini ga diminta scan. Kalo scan sekali itu sekitar 350 dolar.

Kata dokter, kondisi jantungku kedengarannya sama dengan 6 bulan yang lalu, jadi ga perlu discan atau gimana. Dikasih obat, diberikan slot untuk ketemu dia 6 bulan lagi. 1 Oktober nanti.

Saya sms ke manager, tanya apa ada perlu di kantor. Katanya ga perlu, maka saya pulang ke rumah, rencana mau menggunakan siang ini untuk restruktur kamar tidur.


Restruktur Kamar Tidur

Kamar tidurku lumayan besar, untuk ukuran single. Kekurangannya adalah, karena block ini bentuknya melingkar, sehingga bentuk kamarku tidak segiempat, tetapi di dua sisinya melengkung. Jadi ada bagian yang tidak bisa merapat dengan baik.

4 tahun yang lalu, posisi ranjang adalah di samping pintu masuk, meja komputer bentuk L di sudut kamar. Karena satu dan lain hal, meja komputer di geser ke bawah AC, dan ranjang dipindahkan ke sudut, dan juga tepat di arah depan AC. Posisi begini memungkinkan saya bermain komputer di ranjang, atau bahkan sambil tiduran di ranjang.

Belakangan ini suka sakit mata, kering. Saya rasa ada hubungannya dengan AC, jadi mata kering terus. Hidung yang sensitif juga sedikit banyak karena AC. Akhirnya diputuskan hari ini untuk memindahkan posisi ranjang dan meja komputer ke posisi semula. Semoga dengan posisi ini, saya tidak gampang pilek lagi, ataupun sakit mata.

Sekalian juga bersih2 rumah, dan mengisap debu2 yang ada di bawah ranjang yang sudah menahun. Rasanya hari ini adalah hari yang lumayan produktif :). Tapi akibat dari kerja fisik 4 jam membuat aku jadi lemas. Padahal dokter jantung sudah bilang, ga boleh olahraga berat. Yah, sekali-kali ga apa lah dok. Gak setiap hari reformasi kamar tidur kok :)

Labels:

Saturday, April 14, 2007

Book Review: The Street Lawyer

Judul Buku: The Street Lawyer
Pengarang: John Grisham
Penerbit: Dell Fiction, 1998, soft cover
Dimensi: 5 x 8 inch, 452 halaman
Genre: Fiksi, hukum
Setting: Washington D.C.
Readibility: Mudah dibaca. Beberapa jargon dalam hukum.


Buku ini adalah buku John Grisham yang ke-9. Tema utama dari buku ini berkisar pada ketidakadilan dan penderitaan yang dialami oleh masyrakat jalanan yang tidak mempunyai tempat tinggal. Bagaimana sistem pemerintah dan sosial semakin memperosok kondisi mereka, sehingga ribuan orang harus menetap di jalanan di sepanjang bulan Februari yang dingin di Washington, dengan suhu waktu malam bisa mencapai 0 derajat Fahrenheit (bukan Celsius!).

Tokoh utama dari novel ini adalah Michael, seorang lawyer(jaksa/pengacara) muda dalam usia 32 tahun. Seperti kebanyakan orang Amrik, dan mungkin orang singapore, dia tenggelam dalam rat-race mengejar status dan uang, bekerja 80 jam seminggu, memperbesar kesenjangan hubungan dengan istri hingga akhirnya gagal, mengejar prestisi dan segala macam kenikmatan hidup yang ada, tanpa memikirkan kapan dia bisa menikmatinya.

Suatu peristiwa terjadi merubah hidup Michael. Secara total. Seorang gelandangan (Mister) dengan senapan curian menyandera dia bersama dengan 8 orang koleganya. Kehidupan seorang lawyer, dengan meja designer, karpet oriental, gaji ratusan ribu dolar setahun, biaya makan siang ratusan dolar, baju designer, dikontraskan dengan gelandangan yang tidak punya tempat tinggal, tidak berpekerjaan, pakaian bekas dan kotor, dan makanan dari sedekah orang. Dari 9 orang sandera dengan penghasilan total 3 juta lebih setahun, ternyata tidak ada sepeser pun yang pernah disumbangkan ke badan sosial yang membantu orang jalanan. Ketika seorang polisi menembakkan sebutir peluru ke kepala Mister, dan menumpuhkan darah serta cairan otak ke seluruh badan Michael yang berdiri di belakangnya, di situlah titik perubahan hidup Michael.

Ketika seseorang berpapasan dengan kematian yang begitu dekat, hidupnya berubah. Apa yang akan terjadi apabila peluru tadi memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke kepala Michael? Apa yang Mister mau dari penyanderaan tersebut? Michael adalah seorang yang pintar, dan ingin mencari tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Apakah yang Mister inginkan? Dia ingin tau siapa yang bertanggung jawab sehingga dia terpaksa tinggal di jalanan. Dia belum sempat menanyakan pertanyaan tersebut sebelum dia ditembak mati.

Dia bertemu dengan Mordecai, seorang Street Lawyer, atau pengacara khusus untuk orang jalanan. Mordecai kenal dengan 'Mister', dan memberikan pengenalan kepada Michael (serta para pembaca) tentang kehidupan orang2 jalanan. Tidur di jalanan, di kolong jembatan, di dalam mobil rongsokan, antri makan di dapur umum, kerja (bagi yg beruntung) dengan upah minimum, mengemis, pelacuran, penjualan dadah, kekerasan, pemerkosaan, penipuan oleh majikan yang tidak mau membayar gaji, kehamilan, ketagihan narkotik, konselling2 center atau gereja untuk penampungan, dan lain-lain.

Mordecai dan banyak Pengacara Jalanan lainnya bekerja memperjuangkan hak-hak orang-orang jalanan tersebut. Hatinya yang terluka melihat semuanya itu, ingin memberikan sesuatu bagi orang-orang jalanan. Apa artinya kalau dia bisa mendapatkan uang jutaan dolar, tetapi setiap hari ada orang yang meninggal karena kelaparan, kedinginan, dan dia tidak pernah melakukan apa-apa untuk mereka?

Di satu pihak: kerja dengan gaji ratusan ribu dolar, tanpa pernah merasakan lapar dan dingin. Di lain pihak kerja bersama dengan Mordecai, potong gaji 75%, berhadapan dengan ratusan gelandangan setiap hari, dengan kemungkinan ditembak di jalanan setiap saat oleh para gelandangan tersebut. Michael memilih untuk turun dari kahyangan dan masuk ke dunia gelandangan untuk membela hak-hak mereka.

Buku ini mengingatkan kepada kita bahwa ketika bisa makan, ada ribuan orang yang sedang kelaparan. Ketika kita sedang tidur, ada puluhan ribu orang yang tidak mempunyai rumah. Apakah hati kita sudah terlalu keras untuk disadarkan akan kondisi masyarakat di sekeliling kita, seperti di Jakarta? Ataukah kita memerlukan satu momen berpapasan dengan kematian, seperti yang dialami oleh Michael untuk sadar bahwa jiwa manusia itu lebih berharga dari uang?

Labels:

Friday, April 13, 2007

5 years long service award

Sudah berapa hari ini ga ngeblog
belakangan ini, tepatnya sejak hari senin, setiap sore gitu badan jadi kerasa pegal.
Pegal banget gitu.... ntah kenapa...

Hari selasa ketika menjelang sore, mulai merasa hidung sepertinya ga beres. Bukan meler atau block. Tapi serasa bagian dalamnya bengkak. Gejala sinusitis gitu.

Hari rabu minta mc dari dokter, dikasih antibiotik karena gejalanya mirip sinusitis. Nah udah deh. Dikasih antibiotik kelas menengah atas : amoxycilin 500mg+125mg clavulanic acid. Dua kali sehari, untuk 10 hari.

Hari Kamis, pagi ke kantor, ga gitu banyak kerjaan. Lebih banyak beresin aplikasi untuk studi ke SBC. Sorenya minta libur setengah hari untuk ke SBC, submit aplikasinya langsung. Abis itu pergi ke Jurong East untuk dipijit di Yang Sheng Center. 45 dolar untuk 90 menit. Lumayan, tetapi malamnya badan tetap kerasa pegel. hmmm...

Hari jumat, ke kantor, setiap orang dapat baju seragam kantor yang baru. Siangnya jam 3 berangkat ke Restoran untuk 'kick off' meeting. Membicarakan sejarah kantor dari awal. Ada kolega2 dari malaysia datang. Terus saya dapat Long Service Award dari company. Dapat satu ballpoint Waterman, yang ada ukiran namanya. Lumayan :). Abis makan malam ada session karaoke... abis itu pulang :)

Sampai di rumah, tepar deh... sakit kepala... sakit hidung... perlu istirahat....

Labels:

Monday, April 09, 2007

Monday full of gladness

Hari ini adalah hari yang spesial. Tidak. Bukan karena saya dapat cewe di hari ini. Lebih dari itu. Hari ini, sepertinya saya menemukan Sukacita yg sudah lama hilang. Yaitu sukacita yang dari Tuhan saja. Rasanya seperti kembali ke bertahun-tahun yang lalu. Kembali ke saya yang gembira dan banyak senyum. Kembali ke masa lalu yang 'innocent' tanpa pergumulan orang dewasa.

Mungkin, karena kemaren sudah banyak meneteskan air mata, bagaikan hujan yang sudah menyirami padang gurun yang tandus. Padang gurun mulai menampakkan rumput2 yang hijau, demikian juga hatiku juga menumbuhkan bibit-bibit sukacita yang tidak terkatakan.

Sudah terlalu lama, saya bersandarkan sukacita pada 'acceptance' dari orang lain. Tanpa menyadari, bahwa sukacita yang sejati itu dari Tuhan. Sudah terlalu sering, saya menganggap penolakan dari orang lain sebagai hal yang menghalangi sukacitaku, tanpa berusaha mengingat, bahwa sukacita itu adalah juga berkat dari Tuhan.

Hari ini, saya mengambil pilihan untuk hidup dalam sukacita. Saya mau mengingat akan kasih Allah, dan bersyukur untuk hal2 kecil yang saya alami. Saya mau Tuhan memakai senyum dan sukacitaku, untuk menyinari orang2 di sekelilingku.

Labels: ,

Tearful Sunday

Siapa bilang menangis adalah hak istimewa wanita? Buktinya, kemaren sepanjang hari, saya meneteskan airmata lebih dari 3 kali.

Pertama kali, Minggu pagi, sebelum tidur (tidurnya jam 2 pagi). Ketika sedang tidur, ada rasa sedih yang tiba2 menyelinap masuk, dan meneteslah air mata.

Kedua kali, Minggu pagi, di kebaktian Paskah Subuh. Pada saat GPBB-Kuartet nyanyi. Suaranya bagus, dan lagunya juga menyentuh. Lagu yang menyentuh kalau dinyanyikan oleh suara yang bagus akan menghasilkan hasil yang luar biasa. Thanks U, O, Y, D, untuk suara kalian yang telah Tuhan berikan, dan tentu juga D yang mengiringin dengan piano juga. Lagunya "in the name of the Lord".

Ketiga kali, ketika sampai di rumah, dan membaca satu email yang dikirim oleh pr B. Waktu membaca artikel itu, somehow merasa senasib. Terus membaca satu artikel yang dikirim Yy minggu lalu (sebelumnya belum sempat dibaca). Tentang cerita seorang anak bernama Shay yang lahir dengan penyakit, dan bagaimana suatu permainan baseball membuat dia merasakan bagaimana menjadi 'Pahlawan'. Cerita ini sudah pernah saya baca dalam bahasa inggris sebelumnya di reader's digest kalo ga salah, waktu itu biasa-biasa saja. Namun kali ini, ntah kenapa air mata bercucuran membasahi pipi.

Keempat kali, malam hari. Nonton satu film yang dipinjamkan teman: Sad Movies. Film Korea. Waktu awalnya sih lucu2 saja. Tapi akhirnya, wahhh.... benar2 seperti judulnya, Sad Movies.

Ada 4 cerita terpisah.
- 1 pasang yg sudah pacaran 3 tahun, diminta putus karena cowonya ga pernah punya kerjaan. Setelah cowonya dapat kerjaan, tahunya cewe ini dah dapat cowo lain, putus.
- 1 keluarga yang ibunya senantiasa sibuk dan dibenci anaknya. Ketika kecelakaan mendaratkan sang ibu di RS, dan hubungan dengan anak pun pulih kembali. Tetapi tragedi adalah sang ibu ada penyakit kanker dan pasti akan mati.
- 1 pasang yang cowonya anggota tim pemadam kebakaran. pacaran dengan seorang cewe yang pernah diselamatkan. Mau proposal ga pernah terlaksana. Pada hari-H ketika dia mau proposal, dia dipanggil untuk memadamkan api, dan tewas.
- 1 pasang yang cowonya seniman dan cewenya figuran penggembira pake kepala besar sebagai princess di theme park. Cewe tsb bisu, dan mukanya bekas luka bakar. Cowo tersebut suka sama cewe itu, dan cewe itu pun suka. Namun ketika melihat wajah cewe itu sebenarnya, cowo itu jadi sedih sendiri, dan cewe itu juga menangis. Cowo itu pergi dari theme park untuk studi.

Mungkin sepanjang kehidupanku sebagai 'orang dewasa' ini satu hari dimana aku paling banyak meneteskan air mata. Mungkin kejadian ini tidak akan terulang lagi. Tapi aku bersyukur, karena ternyata aku masih manusia. Hal2 yang terjadi kemaren mungkin berhasil membuka bendungan yang selama ini ditutup. Dan semoga air mata yang dicucurkan dapat menyegarkan kembali jiwaku, hatiku yang sudah membatu.

Terima kasih Tuhan, untuk Paskah 2007 yang penuh dengan tangisan dan airmata ini.

Labels:

Saturday, April 07, 2007

Easter Weekend 2007 (2)

Easter Musical 2007 - 7 April 2007

Hari ini, adalah klimaks dari serentetan acara Paskah di GPBB. Akan ditampilkan dari GPBB, suatu drama Musikal berjudul Hosea, berdasarkan cerita yang didapatkan dari kitab Hosea di perjanjian lama. Setting cerita berkisar di zaman kerajaan Jeroboam, pasca kerajaan Salomo.

Kali ini saya tidak begitu terlibat langsung di dalam musical. Hanya 'mendampingi' ibu ketua JP*. Karena kesibukan kantor, dan hampir 2 minggu di korea, membuat saya tidak bisa membantu banyak di masa2 kritis. Tapi buket emang orangnya organize, jadi dia tetap bisa melakukan semuanya dengan baik. Kadang dia banyak 'sharing' juga sih lewat msn :)

Musical ini boleh dibilang berhasil luar biasa, terutama dalam takaran manusia, untuk menghasilkan sesuatu yang begini menakjubkan dalam 3 bulan, sungguh sesuatu yang mustahil. Usaha dari setiap orang benar2 kelihatan dalam project ini, terutama dari pemain drama, paduan suara, dan tidak lupa mengingat penulis, pemusik, sutradara dan para advisor lainnya.

Musical ini disimpulkan dengan satu kotbah oleh KaPet. Jemaat dan pengunjung yg datang diminta untuk re-commitment. Hasil dari komitmen form belum diketahui. Tetapi apa pun hasilnya, saya rasa musical ini sudah menjadi berkat baik buat yang menonton, maupun yang terlibat langsung di dalamnya. Semoga musical ini membawa kemuliaan bagi Nama Tuhan!

Ada sedikit joke, dari teman kantor saya yang sempat datang. Dia mengatakan musicalnya bagus, dan choirnya juga bagus, sudah berpakaian seragam, hitam-hitam, rapi, tetapi kok di ujung belakang ada satu yang ga hitam, tetapi putih-berkilau*? Pertama-tama kami bingung, apa yang dia maksud. Ternyata, yg dia maksud 'berkilau' adalah salah satu rekan kami yang baru saja dicukur 'botak', sehingga berkilau ketika disinari spot light. hehe...


Easter Morning Service - 8 April 2007

Kemaren malam tidak pulang ke rumah, tetapi tidur rumah HC*. Thanks yah! atas kesediaan dan kerumahsakitannya (hospitality). Biasa emang, setelah satu project selesai, maka seluruh badan terasa cape, dan bahkan secara emosional juga cape. Pagi ini bakal ada kebaktian jam 6 pagi di gereja, kalau pulang ke rumah, mungkin ga bakal bisa bangun... jadi amannya tinggal di rumah teman yang dekat gereja.

Kebaktian dimulai jam 6 tepat. Jemaat2 pun mulai berdatangan. lumayan, ada sekitar 300an yang datang mungkin. Padahal itu berarti kebanyakan orang harus naik taxi dari jam 5an. Ada belasan anak dari east yang bahkan nginap di rumah preacher kami. Sungguh suatu komitmen yg luar biasa dari jemaat untuk berusaha datang pagi2, padahal malam sebelumnya baru cape2 musical. Belum tante2nya yang harus masak bubur buat pagi ini.

Ibadah pagi berjalan dengan baik. Ada satu lagu yang sangat menyentuh hatiku. Pertama kali dengar lagu ini, adalah waktu Yy* menyanyikan di waktu latihan. Kali ini menyanyikan sendiri-bersama jemaat, dan perasaannya sungguh berbeda sekali. Saya rasa lagu ini sangat Tuhan pakai untuk memperbaharui komitmen orang2 yang mendengar ataupun menyanyikannya.


Seperti yang Kau ingini

Bukan dengan barang fana
Kau membayar dosaku
Dengan darah yang mahal
Tiada noda dan cela

Bukan dengan emas perak
Kau menebus diriku
Oleh segenap kasih
Dan pengorbananMu

Kutelah mati dan tinggalkan
cara hidupku yang lama
Semuanya sia sia dan tak berarti lagi
Hidup ini kuletakkan
pada mezbahMu ya Tuhan
jadilah padaku seperti yang Kau ingini

Ketika menyanyikan ulang lagu ini sendiri di kamar, lagu ini masih membuatku tersentuh, dan bahkan meneteskan air mata. Sungguh suatu karya pujian yang luar biasa.

Terima kasih yah Bud, untuk bingkisannya. Maaf, suh ga siapkan apa-apa untuk kamu.


Children's Easter Celebration

Setelah Kebaktian selesai, komisi Anak sudah mulai sibuk untuk perayaan Paskah Anak2. Kali ini Paskah Anak diadakan di MPH, yang lebih gampang diatur dibanding dengan tahun lalu. Anak2 bisa berlari sana sini dalam berbagai macam game, seperti lari dengan sendok dan telor, terus memukul pinata yang terbuat dari balon (yang tidak pecah-pecah).

Keunikan dari perayaan paskah anak kali ini, adalah bahwa yang menjadi panitianya adalah anak2 dari Sekolah Minggu kelas besar. Mereka lari sana-sini, teriak, mengatur, adik-adiknya yang lebih muda (dan mungkin bandel), dan mencoba menertibkan suasana dengan lebih banyak teriakan lagi :).

Saya rasa ini inisiatif yang sangat baik dari KA, agar anak-anak turut merasakan usaha yang dilakukan oleh para guru SM untuk mendidik mereka. Semoga anak2 kelas besar ini tidak menjadi takut dan malah terbeban untuk ikut menjadi guru SM nantinya.

Seru sekali melihat anak2 yang tengah tenggelam dalam kegembiraan dan permainan. Senyuman yang ada di muka mereka, benar-benar priceless, dan sedikit banyak mencerahkan suasana di hatiku yang sedang galau.


Paskah Maria Marta - Pelaut

Di chapel ada Paskah MariaMarta-Pelaut, mulai jam 10.30. Yang jadi liturgis adalah Mbak A*. Saya juga ikut dalam kebaktian ini dari awal sampai akhir. Yang hadir total 55 orang. Memang dari MariaMarta pelaut itu kehadiran tidak bisa ditebak. Tahun lalu ada 80an orang. Soalnya kan tidak pasti pelautnya bakal mendarat, atau MariaMartanya bisa mendapat ijin dari majikan. Namun dari panitia tetap perlu menjalankannya, karena sungguh, perayaan paskah ini adalah suatu encouragement bagi mereka.

Ada empat orang bapak-bapak pelaut yang memberikan persembahan pujian. Ku berserah, kepada Tuhanku. Lagu ini kalau dinyanyikan oleh jemaat biasa, biasanya asal lewat saja, sekalipun melodinya sangat bagus. Tetapi ketika lagu ini dinyanyikan oleh Pelaut, maka lagu ini sangat mencerminkan kehidupan mereka di tengah lautan. Ketika ombak dan badai menerpa, atau ketika bertemu dengan taufan, mereka hanya bisa berserah kepada Tuhan saja.

Habis kebaktian, ada acara foto2 dan makan2 bersama sambil berramahtamah. Memang persekutuan ala indonesia itu tidak pernah kurang bagian 'ramah-tamah' atau makan-makannya. Bersyukur, dalam fellowship santai ini juga saya bisa mendapatkan penghiburan.


Labels:

Friday, April 06, 2007

Easter Weekend 2007 (1)

Paskah.... berasal dari kata Pasca, artinya lewat... bahasa Inggrisnya PassOver lebih cocok dibanding dengan kata Easter. Paskah pertama kali terjadi ketika Musa hendak memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, yaitu ketika tulah ke-10, umat Israel diperintahkan untuk mengorbankan domba, dan darahnya dioleskan di atas pintu rumah, agar ketika roh Allah datang untuk membunuh anak sulung, dia akan 'lewat' dari rumah itu.

Paskah sebenarnya bukan untuk merayakan kebangkitan Kristus, tetapi sebaliknya kebangkitan Kristus terjadi di hari Paskah.

Paskah adalah acara yang paling besar di GPBB sepanjang tahun. Mulai dengan minggu2 prapaskah yang diawali dengan rabu abu, memasuki minggu sengsara, kamis putih, jumat Agung, sabtu sunyi dan minggu Paskah. Biasanya di gereja akan ada tema kotbah yang berantai di sepanjang minggu2 Prapaskah hingga minggu Paskah itu sendiri.

Kamis Putih, 5 April 2007
Yang menyampaikan kotbah adalah Pr Budi. Inti dari kotbah adalah, seberapa kita mengenal Tuhan kita. Apakah kita hanya tahu tentang Tuhan saja, tetapi tidak pernah benar2 mengenal Dia? To know about God, and to know God, is two different thing.

Di dalam kitab Kejadian, ketika Adam 'tahu' Hawa, maka Hawa mengandung. Di dalam injil, ada juga yang mengatakan, ketika Yusuf mengetahui bahwa Maria mengandung oleh roh Kudus, Joseph did not 'know' Mary, sampai Yesus lahir. Tahu, mempunyai suatu arti yang lebih dalam, dibanding dengan sekedar tahu nama saja.

Kaum intelektual, yang banyak memakai logika, rasionalisasi, seringkali lebih banyak mencari pengetahuan dalam bentuk teori, argument, tetapi seringkali tidak 'tahu' akan Tuhan, karena Tuhan susah dijelaskan dengan rasio. Para HT, pelayan Tuhan juga seringkali terjebak dalam dilemma yang sama, karena sudah terlalu dalam mempelajari ilmu tentang Tuhan, tetapi pengenalan kepada Tuhan secara pribadi, mungkin belum cukup atau bahkan tidak ada.

Kalau bicara tentang pengetahuan, di muka bumi ini adakah yang lebih pintar dari internet, sumber dari segala pengetahuan, yang baik ataupun yang buruk? Atau lebih specific, google, wikipedia, dll, yang sudah menjadi website yang dikunjungi setiap hari untuk mencari 'tahu'?

Tetapi apa gunanya, kalau kita punya segudang ilmu pengetahuan tentang Tuhan, tetapi kita secara pribadi tidak mengenal Tuhan? Apa gunanya kita punya segudang pengetahuan, tetapi hidup kita berjalan menuju kehampaan, tanpa ada arah atau tujuan yang tepat?

Jauh lebih baik, seorang buruh yang tau sedikit tentang Tuhan, tetapi mengenal Tuhan secara pribadi, dibanding dengan kita yang mengakui diri adalah aktifis, tetapi menolak untuk mengenal Tuhan secara pribadi.

Apabila saya mengakui Tuhan, sebagai Tuhan yang maha mengampuni, mengasihi, apakah response saya? Apakah saya akan senantiasa berbuat dosa, sehingga bisa diampuni, dikasihi terus? Tidak, saya harus hidup kudus, tetapi ketika saya gagal, saya tahu, Tuhan ada di situ dan Dia mau mengampuni dan mengasihiku.


Jumat Agung, 6 April 2007

Jumat Agung, biasanya diperingati bersamaan dengan perjamuan kudus. Untuk memperingati jumat agung, jemaat dihimbau untuk berpakaian hitam, karena pada hari ini, 2000 tahun yang lalu Tuhan Yesus mati di kayu salib. Majelis jemaat juga dihimbau untuk pakai baju hitam, plus jas hitam. Jadi seperti MIB minus kacamata hitam.

Karena ini kebaktian special, penyambut dan kolekte juga dipimpin oleh anggota MJ. Harus diatur, siapa yang bisa datang, siapa yang ga bisa, siapa yang telat. Briefing posisi berdiri, briefing cara oper kantong dan tray perjamuan kudus.

Jadinya, anggota MJ kebanyakan ga bisa 'menikmati' kebaktian khusus, yang juga merupakan kebaktian keluarga ini. Kadang dipikir2 ironis juga. Kita menghimbau keluarga untuk duduk bersama di dalam ibadah, tetapi kita sendiri tidak bisa duduk bersama keluarga kita.

Ada kejadian lucu, waktu doa setelah meminum anggur perjamuan kudus, Lana kecil yang sudah bisa jalan, tiba2 muncul di atas mimbar. Ternyata pada saat doa, dia kabur meninggalkan orang tuanya, dan nyelinap ke depan mimbar. Lucu sekali. Saya 'tangkap' dari belakang dan membawa Lana kembali ke maminya yang ada di barisan paling belakang.

Kotbah di kebaktian Jumat Agung ini, justru tidak begitu tercetak di pikiran seperti kasus Lana. Yang diingat adalah perwakilan dari masing2 kelompok jemaat turut mengambil bagian dalam ibadah. Kotbah tetap tentang Hosea, yang mengatakan bahwa Tuhan lah yang dulu memanggil kita keluar dari Mesir, tetapi semakin Tuhan memanggil, semakin Israel menjauhi. Tuhan tetap setia, sekalipun kita tidak setia.

Labels:

Thursday, April 05, 2007

My Exposures to Performing Arts

Setelah Phantom of the Opera hari minggu yang lalu (1 April), saya mencoba melihat kembali, berapa pertunjukan artistik yang sudah pernah saya tontonin. Tidak sedikit, dan yang pasti, tidak murah.

Miss Saigon, karya Cameron Mackintosh, story based on Puccini's Madame Butterfly
2001, Kallang Theatre, Singapore
Nonton dengan teman kerja

Miss Saigon, karya Cameron Mackintosh, story based on Puccini's Madame Butterfly
2001, Kallang Theatre, Singapore
Nonton dengan pacar (waktu itu)

Oliver!, karya Cameron Mackintosh, berdasarkan novel Oliver Twist karya Charles Dickens,
2002, Esplanade Theatre, Singapore
Nonton dengan teman gereja

Forbidden City: Portrait of an Empress, karya Dick Lee
October 2002, Esplanade Theatre, Singapore
Nonton dengan teman kerja

Forbidden City: Portrait of an Empress, karya Dick Lee
October 2002, Esplanade Theatre, Singapore
Nonton dengan pacar (waktu itu)

The Wedding Banquet - The Musical, karya Welly Yang, berdasarkan film "The Wedding Banquet" karya Lee Ang,
Agustus 2003, Esplanade Theatre, Singapore
Nonton dengan teman gereja

Mama Mia!, karya Judy Cramer, compilation of 22 ABBA songs,
December 2004, Esplanade Theatre, Singapore
Nonton dengan teman gereja

Sounds of Music - The Musical, berdasarkan The Story of the Trapp Family Singers by Maria von Trapp, karya Leland Hayward dan Richard Halliday
April 2005, Esplanade Theatre, Singapore
Nonton dengan teman gereja

RENT - The Musical, karya Jonathan Larson, story based on Puccini's La Boheme
Feb 2006, Netherlander Theater, Broadway-New York, US
Nonton sendiri (barang satu teater orang2 ga dikenal)

The Phantom of the Opera, karya Cameron Mackintosh,
February 2006, Majestic Theatre, Broadway-New York, US
Show ini sudah main non-stop selama 19 tahun di Broadway
Nonton sendiri

Grease, karya Jim Jacobs dan Warren Casey
May 2006, Singapore Indoor Stadium, Singapore
Nonton dengan teman kerja

Clown - The Musical, karya Tanjong Katong Presbyterian Church
December 2006, Victoria Theatre, Singapore
Nonton dengan teman gereja

The Phantom of the Opera, karya Cameron Mackintosh,
1 April 2007, Esplanade Theatre, Singapore
Nonton dengan teman gereja

Selain musical-musical di atas, dalam masa2 pelayanan di NTU CF, sempat ikut dalam beberapa musicals.
The Prodigal Son 1998
The Irony 1999

Ada juga beberapa opera yang sudah pernah ditontonin:
Madamme Butterfly 2001, karya Puccini
Tosca 2001, karya Puccini

Cantata and Oratorio that I performed:
Handel's Messiah, GPBB Christmas 2004
Mendelssohn's St Paul, SSO-SSC Performance
Beethoven's Symphony no. 9, SSO-SSC Performance
Mahler's Symphony no. 8, SSO Gala Concert 29-30 May 2004
Tom Fettke's Once and For All, GPO-GPBB Easter 2002
David T. Clydesdale's I stand in awe, GPBB Easter 2006

Labels: ,

About me: a Thanksgiving

Hidup ini serba tidak menentu. Suatu saat, anda bisa berada di atas, suatu saat anda berada dibawah. Seperti ferris wheel yang berputar. Tetapi kapan ia akan naik, kapan ia akan turun, tidak ada yang tahu.

Terkadang terpikir, apabila segala sesuatu di dalam hidup kita terjadi sesuai dengan 'rencana' kita, alangkah baiknya! Tapi tunggu dulu, apakah itu memang yang terbaik? Tidak pasti!!

Ketika rencana kita gagal, kita bisa mengeluh, kepada nasib, kepada lingkungan, kepada negara, bahkan kepada Tuhan juga. Kita menangis, mengapa yang kita inginkan tidak diberikan dengan gampang, padahal sebenarnya apa yang kita inginkan itu belum tentu yang terbaik buat kita.

Tidak jarang dalam hidup kita, ketika kita melihat kembali, ternyata banyak kegagalan yang kita alami, justru mendatangkan berkat yang lebih lagi bagi kita. Kita cuma bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala, membayangkan apa yang akan terjadi, kalau seandainya 'kegagalan' itu tidak terjadi.

Satu hal yang penting sekali, dan terjadi dalam hidupku, adalah bagaimana saya bisa sampai di Singapore. Kalau banyak yang bisa datang karena keluarga mampu, karena pintar, maka saya bisa datang ke Singapore hanya semata-mata anugerah Tuhan.

Keluarga saya di Tg.Pinang, adalah salah satu keluarga yang 'unik', dengan 7 orang anak (6 cowo + 1 cewe), dan semuanya sudah lulus kuliah, terkecuali si bungsu yang masih kuliah sekarang. Buat rata2 keluarga, kalau ada satu anak yang bisa lulus kuliah sudah luar biasa, apalagi 7.

Dari SD, sampai SMA, kalau saya studi, selalu berada dibawah bayang2 saudara2 yang 'perform' di sekolah. Rata2 mereka adalah top student di sekolah, jadi tekanan selalu ada. Di dalam keluarga, kasih dan apresiasi jarang diberikan orang tua, sehingga seolah prestasi menjadi satu2nya penghiburan ataupun security, untuk mendapatkan apresiasi/kasih dari ortu.

Masa SMP, nilai NEM aku sempat menjadi paling tinggi sekabupaten (tidak bisa dibandingkan dengan teman2 dari Jakarta, SMUK2 yang jauh lebih pintar), walaupun masa2 EBTANAS setiap hari saya bermain pool dengan teman2 sekolah. *ini bukan contoh yang baik*.

Prestasi ini tetap dipertahankan di SMA. Prestasi di sekolah, dan hubungan yang baik dengan para guru, membuat saya menjadi sorotan. Saya juga meluangkan waktu untuk memberikan tuition kepada teman2 yang mengalami masalah dalam pelajaran.

Ketika Ebtanas SMA, dua murid saya benar2 angkat tangan untuk pelajaran fisika, dan meminta 'bantuan' saya. Tidak tega melihat mereka gagal, saya menjanjikan akan memberikan selipan jawaban di wc. 30 menit memasuki ujian, saya menyelesaikan 50% pilihan ganda, dan 1 soal essay, dan jawabannya saya salin di dua lembar kertas. Dengan pengaturan yang hati2, dua orang teman saya berhasil mendapatkan lembaran jawaban tsb. Kita tidak pernah ketahuan.

Namun tragedi terjadi, ketika nilai Ebtanas keluar. Nilai Fisika saya merupakan salah satu yang paling rendah di sekolah. 2,30. Hampir semua guru bingung. Kedua teman saya yang mendapat salinan jawaban saya mendapat nilai 5an. Saya kok mendapat nilai 2,30? saya berusaha bertemu dengan kepala sekolah, yang terkenal mata duitan, korupsi. Dan response dia sangat mengejutkan. Dia ga peduli, dan sama sekali tidak mau tau, dan malah sepertinya defensif. Padahal saya cuma minta agar lembaran jawaban saya diperiksa ulang.

Padahal saya adalah salah seorang murid yang pernah mewakili sekolah dalam perlombaan tingkat propinsi. Dalam benak, saya tahu, kepala sekolah ini terkenal 'menjual' nilai demi uang. Siapa lagi yang telah menukar kalau bukan dia?

Di hati kecilku, saya belum begitu membenci 'korup'nya indo waktu itu. Setelah kejadian itu, saya begitu benci, sampai tidak mau tinggal di indo lagi. Saya sebel, marah, dengan ketidakadilan yang saya alami, dan akan tidak adanya bantuan untuk saya sama sekali. Dalam amarah, saya datang ke singapore.

Saya tinggal di rumah sodara. Mereka dulu juga orang Tg Pinang, tetapi karena sejak kecil sekolah di SG, sekarang sudah jadi orang sg. Attitudenya juga serba SG, dan menganggap remeh saya sebagai seorang lulusan SMA indo. Hal ini membuat saya ga senang, karena saya percaya standar saya tidak kalah jauh dengan mereka.

Mereka menasehatiku untuk mengambil kursus bahasa inggris dulu, terus ambil ujian O level (Ebtanas SMP equivalent). Terus masuk politeknik, baru masuk uni. Berarti saya turun 4 tahun minimal. Seorang tamatan SMA belajar untuk mengambil ijazah yang setara dengan SMP? Emang separah itukah standar pendidikan indo?

Karena melihat itu satu2nya jalan keluar, maka saya mengambil O level. Nilai nya ok, tetapi tidak terlalu bagus. Dengan nilai tersebut, tahun 1997 saya mendaftar ke 4 politeknik yang ada. Itu bulan Maret awal.

Di pertengahan maret, saya lihat, bahwa NTU dan NUS juga membuka pendaftaran buat siswa yang sudah mendapat ijazah A level. Dalam hati saya berpikir, kan ijazah SMAku itu juga setara dengan A level, kenapa gak dicoba? Nem saya yang fisika itu 2,30, jadi saya mendaftar pakai STTB aja yang fisikanya 5, sedangkan nilai yg lainnya 9. Kan lumayan.

Relasi saya mencemooh saya. Taraf pendidikan di indonesia itu parah, katanya. Kamu ga mungkin bisa masuk. Buang2 uang saja, katanya. Menurutku sih, uang 25 dolar untuk mencoba, kenapa tidak? kan siapa tau. Kenapa melarang aku mencoba? Masuk ga masuk kan urusanku.

Saya diterima di Temasek Politeknik, dan Singapore Politeknik, di bulan April. Saya memilih Singapore Poly. Dan sudah membayar uang sekolah, etc. Dalam hati saya masih berharap untuk bisa diterima di uni, walaupun memang kenyataannya NTU/NUS saat itu tidak menerima student dari Indonesia, terkecuali peraih beasiswa.

Bulan Mei, saya menerima surat dari NTU. Saya diterima. Relasi saya bengong. Mana mungkin! katanya. standar indonesia, loe pasti bakal KO di sana. Mereka mencoba membujuk aku untuk masuk Poly aja dulu. Setelah lulus baru masuk NTU. Katanya itu akan lebih baik buat aku. Dalam hati aku tau, mereka cuma iri, karena aku bisa masuk NTU langsung. Mereka perlu menyekolahkan anaknya susah payah dari SD - Uni, itu biayanya sangat besar. Sekarang anak ini tau2 bisa masuk, tentu suatu 'blow' terhadap mereka.

Saya pun membatalkan studi di SP, dengan alasan yang unik -> karena diterima di NTU, mungkin tidak ada orang kedua yang mengalami hal yang sama dengan aku. Pendaftaran di NTU, pengurusan loan, pengurusan asrama, semuanya berjalan dengan lancar. Bulan Juli, saya pindah ke dalam asrama NTU, hall 11 tercinta.

Setahun pertama di NTU, prestasi saya di sekolah lumayan. Tidak 'ngos-ngos'an seperti prediksi relasi saya. Memang bulan pertama agak susah menangkap pelajaran yang disampaikan dalam bahasa Inggris. Tetapi nilai saya adalah top 10% murid terbaik, bahkan lebih baik dari sebagian scholar yang ada waktu itu.

Saya harus mengatakan bahwa masuknya saya ke NTU adalah anugerah. Karena selain saya, tidak ada satupun orang indo yang berhasil masuk dengan ijazah indo langsung ke NTU. Yang ada hanya sekitar 20 scholar yang mendapat beasiswa dari seluruh indonesia. Selain itu ada lagi seorang dari Tg Batu yang masuk dengan NEM yang bagus. Saya satu2nya yang mendaftar dengan STTB.

Setahun berlalu, NTU Registrar office menelpon saya. "Suhandy, we realized that we have not received your NEM yet, can you submit to us ASAP?". Dalam hati saya berpikir:"gawat, jangan-jangan saya akan dikeluarkan.". Ketika saya menghadap dengan NEM fisika 2,30, registrar tersebut melihat dengan mata membelalak. "Your Physics is only 2,3?" saya cuma mengatakan, in Indonesia, a lot of things can happen to change a person's score. Mine is one of them. But that is not important. The important thing is that you should realize that now my school result is within the top 10%. That should prove that I am capable to study in this course, and that my NEM was wrongfully marked. Saya keluar dari ruangan interview tanpa penalti, walaupun hati tetap deg-degan.

Ada banyak hal yang harus disyukuri dalam masa studi di NTU. Selain fasilitas uninya memang lebih baik dibanding dengan uni2 di indo, jauh dari diskriminasi orang pribumi, ataupun orang kota terhadap kami (orang pulau). yaitu saya kembali mengenal Kristus.

Saya dikenalkan kepada persekutuan kampus CF, dan diajak ikut ke Cell/Care group di hall 11. Di situ, teman2 SG mengajak ke gereja. Di situ juga, saya mengenal apa yang disebut pelayanan, terutama dalam pelayanan di Music Ministry. Saya belajar paduan suara, dan musical di situ. Dan benar2 suatu pengalaman yang menjadi dasar dari pelayanan saya selanjutnya.

Masa2 di NTU, juga adalah masa2 perintisan pelayanan NTU ISCF, persekutuan kristen untuk orang indo yang pertama di SG, bersama dengan Andreas dan teman2. Saya diberikan kesempatan melayani di dalam kepengurusan yang pertama. ISCF saat ini sudah ada di hampir seluruh kampus di singapore.

Masa2 itu juga, saya mulai ke GPBB (1998) dan dibaptis di bulan November. Memulai resume pelayanan dari paduan suara, perintisan komisi pemuda, hingga menjadi anggota BP dan Majelis.

Kalau dilihat kembali, kepahitan, kepedihan, terhadap Indonesia, ketika mendapat nilai NEM jelek, memang nyata. Tetapi tanpa itu, mungkin saya tidak akan ke SG. Saya mungkin akan masuk UI atau ITB, dan saya melihat banyak teman2 saya yang concernnya cuma studi dan studi. Mungkin saya tidak akan sempat mengikuti persekutuan kampus sama sekali.

Melihat sekarang, pelayanan yang saya punya, teman2 tercinta di GPBB tercinta, yang benar2 sudah menjadi rumah kedua bagiku. Saya harus senantiasa bersyukur atas apa yang sudah Tuhan berikan. Teman2ku, tanpa bantuan kalian, tidak akan ada Suhandy di hari ini. Terima kasih atas pertolongan kalian, karena selalu ada di sisiku.

Apabila disuruh memilih kembali jalan hidupku, aku akan tetap memilih jalan yang sama ini. Seperti film 'Be With You' di blog sebelum ini, saya tidak akan menukarkan hidup ini dengan skenario yang lain, karena saya ingin hidup bersama dengan Tuhan, bersama dengan teman2ku yang kukasihi ini semua.

Tuhan memberkati

Labels:

Wednesday, April 04, 2007

Proaktif jadi Provokatif?

Selasa, 3 April 2007

Companyku sudah berdiri kurang lebih 7 tahun. Namun cara kerja oleh orang2 tertentu masih saja tidak masuk akal, attitude semau gue, dan tidak mau mendengar pendapat orang lain. Yang saya maksud adalah boss yang paling gede di company.

Saya selalu berkata, lebih baik bekerja 5 project dibawah managerku sekarang, daripada 1 project dibawah boss gede. Kenapa? karena boss ini selalu menganggap segala sesuatu gampang, over-promise kepada client, menganggap remeh, dan tidak pernah mau mendengar input dari kami. Saya sendiri pernah berantem dengan dia waktu di US dulu.

Nah, baru2 ini kita dapat project baru, di Thailand. Yang handle adalah boss gede. Dalam hati aku dah pikir, ini bakal gawat. Sekalipun saya ga directly involve di project ini, namun sebagai senior, saya concern apakah project ini bisa berjalan dengan baik. Akhirnya bersama dengan junior kita bicarakan detail tentang project ini, bersama managerku, arsitek, dll. Dan akhirnya kesimpulannya adalah project ini sangat rumit, dan akan menguras tenaga banyak dari semua pihak.

Saya pikir: 我不入地獄誰入地獄 (wo3 bu2 ru4 di4 yu4, shei2 ru4 di4 yu4) direct translation: kalau saya tidak masuk neraka, siapa yang masuk neraka. Artinya, kalau benar perlu seseorang yang berkorban, biarlah saya yang berkorban. Ini adalah suatu ajaran buddhisme yang menonjolkan self-sacrifice for the greater good of others. Saya rasa ajaran ini tidak bertentangan juga dengan ajaran kristen.

Jadi, saya bikin satu email panjang, listing tentang masalah yang ada, dan kirim ke semua orang, yang pernah involved di project yang sama, dan ke boss gede itu. Proaktif. Maunya memberikan highlight/concern terhadap masalah yang ada. Namun apa tanggapannya? Boss gede sama sekali tidak menjawab issue yang saya tanyakan, malahan meremehkan tanggapan saya. Merasa apa yang mereka lakukan sudah benar. Senior aku membantuku, dan membalas, bahwa segala sesuatu yang aku katakan itu benar, bahwa pihak project management (baca: boss gede) meremehkan project ini, dan menganggap segala sesuatu itu gampang. Boss gede masih juga ga gitu ngeh kalo mereka itu salah.

Satu kantor jadi heboh, karena email saya yang proaktif, yang bermaksud baik buat company, tetapi buat boss gede, dianggap 'provokatif'. Semua orang di company, mengerti akan niat baikku, tetapi boss gede tidak merasa demikian. Mungkin ini membantuku untuk berhenti dari kerjaan nanti, karena aku bisa menceritakan dengan jelas, bahwa cara kerja company itu tidak benar, dan company yang tidak mau mendengarkan input, tidak akan bisa berkembang.

Saya coba merefleksikan diri sendiri. Seringkali manusia merasa dirinya paling benar. Ketika confidence membuat kita tidak mau mendengarkan input dari orang lain, maka itu sudah menjadi over-confidence. Dan itu akan membawa kita kepada suatu kejatuhan. Ketika ada orang yg mau memberikan kritikan kepada kita, sudikah kita mendengarnya? atau kita malah menganggapnya sebagai sampah atau angin yang lewat telinga begitu saja?

Dalam Lun2 Yu3 (論語), buku Confusius mengatakan﹕ 三人行﹐必有我師 (san3 ren2 xing2, bi4 you2 wo3 shi1), artinya kalau ada 3 orang yang berjalan bersama, pasti ada satu yang menjadi guruku. Dalam berteman, atau bekerja, kita selalu bisa belajar dari orang yang lebih pintar dari kita, tetapi bukan berarti kita tidak bisa belajar dari orang yang lebih jelek dari kita. Kita belajar dari kesalahan, kejelekan orang tersebut, supaya kita tidak melakukan hal yang sama. Dalam hal ini, boss gede juga merupakan guruku, walaupun guru di sisi yang negatif.

Labels:

Tuesday, April 03, 2007

依依不舍

张信哲 - 依依不舍 reluctant to part (from someone)
专辑:等待


我答应你 再也不会 打搅你的生活
I promise you, from this day on, I shall not bother you
我答应你 再也不会 为你多喝一杯酒
I promise you, I shall not drink another wine because of you
我答应你 从今以后 我们都还是好朋友
I promise you, now and ever, we will always be common friends
你怎么说 我怎么做 这样子够不够
whatever you say, I will obey, we will always be friends...

你看不到 我的双手 在痛苦地颤抖
You cannot see, these hands of mine, are trembling in fear
你听不到 我的内心 碎得我都不敢碰
You cannot feel, my shattered heart, broken down in million piece(s)
你想不到 我的沉默 压抑着多少话要说
You cannot tell, how my silence, hidden a thousand words to say
爱不能有 泪不能流 你教我这种日子怎么过
Love that can't be, tears that can't drop, somebody please tell me how life goes on...

舍不得你
come back to me (real meaning should be: cant give up you)
所以才会骗了你也骗自己
that's why I have deceived you, and deceived me
其实我也知道只是我 没勇气面对问题
Though I know that it is I who chose to dwell in miseries
舍不得你
come back to me
虽然明知我的爱你不珍惜
though I clearly understood, you don't love me...
有些事情谁都说不出原因
These things called love, happens without reasoning

Lagu ini adalah lagu dari Jeff Chang, dari album:"Waiting", sekitar 15 tahun yang lalu. Judul lagunya adalah "Yi Yi Bu She", yang tidak bisa diterjemahin langsung ke dalam bahasa indo ataupun inggris. Yi Yi Bu She adalah suatu idiom, yang artinya ketika kita mau ditinggalkan oleh seseorang, tetapi kita tidak pengen orang itu pergi, namun orang itu tetap harus pergi. Terjemahan bahasa inggris: Reluctant to let go, mungkin mendekati, tetapi tetap tidak bisa mencakup emotional loss yang terkandung dalam idiom chinese tersebut.

Kenapa lagu ini? hmm... berapa hari ini memang mood saya seperti lagu ini. Kalau boleh dibilang, 90% dari apa yang aku alami tertuang dalam teks lagu yang sudah lama ini. Dulu lagu ini sempat menjadi lagu favoritku. Ternyata dinyanyikan setelah mengalami apa yang terjadi di dalam lagu sungguh suatu pengalaman yang 'luar biasa'.

Dalam buku 'Conquering Insecurity' yang sedang aku baca, ada bagian yang menceritakan bahwa terkadang manusia menjadi kurang 'secure' karena kita merasa diri kita 'rendah', 'minder'. Personal Devaluation, karena sesuatu yang terjadi menimpa kita, misalnya patah hati, kehilangan pekerjaan, etc, terkadang membuat kita melihat diri kita sendiri lebih rendah dari seharusnya. Kita jadi merasa, kenapa orang ini ga suka sama kita, karena kita jelek, karena ini, karena itu... suara iblis mulai berbisik dan kita terkadang terjebak ke dalamnya.

Manusia adalah manusia yang emosional, jadi terkadang memang mudah dipermainkan oleh iblis secara emosional. Ibu Theresa pernah mengatakan, bahwa kelaparan yang paling banyak dialami oleh semua orang, bukan kelaparan akan makanan, tetapi kelaparan akan kasih sayang, atau cinta, atau acceptance. Mungkin hal inilah yang saya rasakan, karena ditolak, maka merasa 'unwanted', 'unloved', dan mulailah 'personal devaluation'.

Dalam film "The Wild" yang saya tonton hari sabtu yang lalu, ada kutipan menarik. Kita adalah singa, bukan karena kita bisa mengaum atau tidak, bukan karena kita ada di hutan rimba, atau di sirkus atau kebun binatang. Kita adalah singa, hanya karena memang kita adalah singa. Itu identitas seekor singa. Terlepas dari apa yang dia rasakan, terlepas dari apa yang orang lain katakan, itu tidak bisa mengubah identitas bahwa dia adalah seekor singa.

Kita sebagai orang kristen, apakah kita juga menyadari akan status atau identitas kita masing2? Mungkin pada saat senang, sukses, kita bisa ingat akan status tersebut. Tetapi pada saat down, patah hati, rejected, hilang kerjaan, apakah kita masih sadar kalau kita tetap adalah anak Allah? Apakah kita mau membiarkan si 'jahat' membohongi kita, dan membuat kita makin merasa minder?

Semoga blog ini bisa menjadi penguatan bagi saya (yg masih merasa sedih) dan juga buat orang2 yang membaca.

Labels: ,

Monday, April 02, 2007

Phantom of the Opera

Musical Title: Phantom of the Opera
Venue: Singapore Esplanade Theatre
Time: Sunday, 1st April 2007

Hari ini nonton Phantom of the Opera bersama dengan teman2 dari BB. PO adalah musical yang saat ini longest running di broadway, sudah main selama 12 tahun non-stop, selasa sampai minggu selama 12 tahun berturut2, sehingga tahun lalu memecahkan rekor daripada Les Miserables. Dua-duanya adalah Musical kelas berat dibawah producer Cameron Mackinson dan penulis lagu yang sama: Andrew Lloyd Webber sih.

Baru balik dari Korea, kata kolega2 yang di korea, ketika PO tampil di Seoul, harga tiket paling murah itu 150 USD. Syukur deh, di SG harganya ga semahal itu. Malam ini nonton ber-11, harga tiket 87.5 SGD, agak mahal, tetapi masih terjangkau. Waktu di US itu nonton cuma 30 USD (atau 20 USD, lupa), lebih murah lagi.

Overall, musical ini tetap bagus. Tetapi karena sudah pernah nonton di US, dan 2 tahun yg lalu sudah nonton filmnya, dan lagu2nya juga sudah agak familiar, jadi tidak ada perasaan 'wah' seperti ketika nonton musical yang lain (rent, oliver, miss saigon, mamamia, wedding banquet, forbidden city)

Partly, kenapa saya ga bisa enjoy, karena juga kondisi hati yang belum stabil. Saya mencoba untuk mengatasinya, tetapi tetap saja tidak bisa. Tadinya saya kira, saya sudah bisa keluar dari lingkaran ini, tetapi ternyata untuk melepaskan diri dari perasaan sedih seperti ini sangat susah.
Semoga, di minggu2 yang akan datang, saya akan bisa menghadapi masalah ini dengan lebih baik.... semoga...

Labels: ,

Sunday, April 01, 2007

MR: Be With You (Japan)

Movie Title: Be With You (2004)
Original Title: Ima, Ai ni yukimasu

Film ini menceritakan tentang kisah cinta yang romantis dan supranatural antara Takumi (Shidou Nakamura) dan Mio(Yuko Takeuchi). Penayangan film sangat simple, manis, tetapi cerita yang sangat menyentuh dan dilengkapi dengan karisma yang dipancarkan oleh Yuko, membuat banyak orang mengalirkan airmata. Tidak salah, film ini menjadi film yang paling banyak ditontoni dalam tahun 2004.

Kisah cinta ini dimulai ketika Takumi dan Mio sedang di masa SMA. Takumi adalah seorang atlit sedangkan Mio adalah akademis yang lumayan pintar. Masing2 menyukai satu sama lain, tetapi tidak pernah mengutarakan rasa sukanya, selain dari ucapan "Ohaioo" setiap pagi. Masing2 merasa kalau cinta yang dirasakan hanya cinta sepihak. Dua tahun berlalu, tanpa menghasilkan buah apa2, selain pena Takumi yang terjepit di buku tahunan Mio.

Setelah tamat Universitas, pena tersebut membawa Takumi dan Mio bersama dalam satu pertemuan, yang difollow up dengan 47 surat cinta. Namun, cinta ini terpaksa dihentikan oleh Takumi yang menderita penyakit saraf yang mempengaruhi kemampuan motoriknya. Mio sangat sedih waktu itu.

Ajaibnya, berapa lama kemudian, Mio menghubungi Takumi lewat telepon. Di tengah taman yang penuh dengan bunga matahari, Mio mengatakan bahwa dia mencintai Takumi, mau menikah dengan dia, dan mereka akan bisa menghadapi masa depan bersama. Dai Jo Bu.

Apa yang terjadi yang membuat Mio bersikap demikian terhadap Takumi? Ternyata, dalam satu adegan ketika Takumi hendak bertemu dengan Mio untuk terakhir kalinya, Mio sempat dilanggar mobil, dan dirinya melompat ke masa depan 9 tahun kemudian. Mio yang masih berusia 20 tahun, melihat dirinya 9 tahun kemudian.

Di masa depan itu, Mio melihat bahwa dia sudah menikah Takumi, dan melahirkan seorang bocah cilik bernama Yuri. Namun, dia tidak mengingat apa2 sama sekali. Ketika menemukan diary dia di dalam satu timecapsule yang dia tanamkan bersama Yuri, dia tau, bahwa dia sudah meninggal setahun yang lalu.

Setahun yang lalu, ketika dia akan mati, dia berjanji dengan Yuri dan Takumi, bahwa tahun depan dia akan kembali bersama mereka sepanjang musim hujan. Tetapi setelah musim hujan berlalu, dia akan pergi. Dia tahu, bahwa 8 tahun sebelumnya dia pernah mengalami hal tersebut, da hal itu akan terjadi, dan itu dia janjikan kepada suami dan anaknya tercinta.

Di dalam masa yang ajaib ini, Yuri dan Takumi sangat senang dan bahagia, menemukan istri dan mama mereka yang sudah meninggal. Mio mengajarkan Yuri bagaimana mengerjakan urusan rumah tangga dengan baik. Mio belajar untuk mencintai Takumi seolah mereka baru pertama kali kenalan. Yang ada dalam keluarga ini hanyalah kebahagiaan yang tidak terlukiskan, tetapi terpancar ke lingkungan kantor dan sekolah.

6 Minggu berlalu dengan cepat, Mio menghilang bersama dengan tetesan terakhir di musim hujan, dan terbangun di ranjang rumah sakit. Di hadapan dia, ada dua pilihan. Dia bisa memilih untuk bertemu dengan Takumi (yg baru saja mengajukan putus dengan dia), menikah dengan dia, mempunyai satu masa depan yang bahagia, keluarga yang bahagia, tetapi singkat. Atau dia bisa memilih untuk mengambil jalan lain, jalan yang tidak dia ketahui, dengan masa depan yang tidak menentu.

Mio, telah merasakan kebahagiaan bersama dengan Takumi dan Yuri. Dia rindu akan kedatangan Yuri dalam hidupnya. Sekalipun masa depan yang dia pilih ini adalah masa depan yang pendek. Tetapi jalan yang dipilih adalah penuh dengan kebahagiaan. Dia memilih untuk mengambil jalan ini.

Refleksi:
Karena cinta, Mio rela mengambil jalan yang menuju ke kematian yang pasti. Karena kasihnya pada suami dan anaknya (yang akan lahir), dia mengambil jalan tersebut.Ketika Tuhan kita Yesus Kristus turun ke dunia, Dia juga tahu bahwa Dia akan mati di kayu salib. Namun Dia rela datang, agar kita dapat dipersatukan kembali dengan Allah Bapa di surga.

Kita tidak mempunyai kemampuan untuk melihat ke masa depan seperti Mio apalagi Tuhan. Tetapi jalan untuk mengikuti Tuhan akan melalui hal2 yang tidak menyenangkan, bahkan menyedihkan. Satu hal yang pasti, kita tahu bahwa Tuhan menjanjikan 'happy ending' buat kita semua. Apakah kita berani untuk mengambil jalan itu?

Labels:

 

Free Blog Counter