Simply Suhandy

Sunday, August 05, 2007

Love Above All - The Musical

Love Above All - The Story of Jim and Elisabeth Elliot

"He is no fool who gives what he cannot keep, to gain what he cannot lose" - Jim Elliot

This is an original musical production by Mount Carmel Bible Presbyterian Church. Having said that, it does not mean that the musical is of a meager standard. On the contrary, the musical was of great standard, as it included most components that a good musical should have. I do not say this because I am a Christian, but I say so, based on my experiences in watching many live musical performances.

In term of story line, there is not much to say about since the musical is adapted from the true story of Jim and Elisabeth, those that are recorded and published in books. One may find similarity between this musical and the movie "The End of The Spears", however, one may also find that some part of the story is over simplified. Be it the movie, or the musical, we may not know which is truer or which is better. I believe both has conveyed the right message to the audience.

Music, Choreography, Stage settings and scripts are also wonderfully done. Grand choruses, Duets, Trios, Children song, and the role of a protagonist in the musical follows what the great musicals always have (les miserables, miss saigon, oliver, etc).

One of the songs that touched me most, is the song sung by Jim:
He is No Fool

He is no fool who gives what he cannot keep
To gain what he cannot lose

He is no fool, he is no fool,

who gives what he can never keep.

He is no fool, he is no fool,

who gains what he can never lose.


What if I gain the world and all that it's worth

and lose my soul in exchange

I' be a fool to lose it all
for what will soon pass away
I have one life, one life to live,

so help me Lord, to wisely choose.


He was no fool who g
ave His life on the crosss,
Who died the world to redeem.

He paid my debt and set me free,

and now I am no more my own.

No greater love could claim my life,

To give my all I gladly choose,

To give my all I gladly choose


This is not the first time the musical was staged in Singapore. The premier was at 2003, and I sincerely hope that let this not be the last. It is easy to find a good musical, it is rare to find a christian musical, and it this is definitely one of the rarest good christian musical available today.


Labels:

Thursday, April 05, 2007

My Exposures to Performing Arts

Setelah Phantom of the Opera hari minggu yang lalu (1 April), saya mencoba melihat kembali, berapa pertunjukan artistik yang sudah pernah saya tontonin. Tidak sedikit, dan yang pasti, tidak murah.

Miss Saigon, karya Cameron Mackintosh, story based on Puccini's Madame Butterfly
2001, Kallang Theatre, Singapore
Nonton dengan teman kerja

Miss Saigon, karya Cameron Mackintosh, story based on Puccini's Madame Butterfly
2001, Kallang Theatre, Singapore
Nonton dengan pacar (waktu itu)

Oliver!, karya Cameron Mackintosh, berdasarkan novel Oliver Twist karya Charles Dickens,
2002, Esplanade Theatre, Singapore
Nonton dengan teman gereja

Forbidden City: Portrait of an Empress, karya Dick Lee
October 2002, Esplanade Theatre, Singapore
Nonton dengan teman kerja

Forbidden City: Portrait of an Empress, karya Dick Lee
October 2002, Esplanade Theatre, Singapore
Nonton dengan pacar (waktu itu)

The Wedding Banquet - The Musical, karya Welly Yang, berdasarkan film "The Wedding Banquet" karya Lee Ang,
Agustus 2003, Esplanade Theatre, Singapore
Nonton dengan teman gereja

Mama Mia!, karya Judy Cramer, compilation of 22 ABBA songs,
December 2004, Esplanade Theatre, Singapore
Nonton dengan teman gereja

Sounds of Music - The Musical, berdasarkan The Story of the Trapp Family Singers by Maria von Trapp, karya Leland Hayward dan Richard Halliday
April 2005, Esplanade Theatre, Singapore
Nonton dengan teman gereja

RENT - The Musical, karya Jonathan Larson, story based on Puccini's La Boheme
Feb 2006, Netherlander Theater, Broadway-New York, US
Nonton sendiri (barang satu teater orang2 ga dikenal)

The Phantom of the Opera, karya Cameron Mackintosh,
February 2006, Majestic Theatre, Broadway-New York, US
Show ini sudah main non-stop selama 19 tahun di Broadway
Nonton sendiri

Grease, karya Jim Jacobs dan Warren Casey
May 2006, Singapore Indoor Stadium, Singapore
Nonton dengan teman kerja

Clown - The Musical, karya Tanjong Katong Presbyterian Church
December 2006, Victoria Theatre, Singapore
Nonton dengan teman gereja

The Phantom of the Opera, karya Cameron Mackintosh,
1 April 2007, Esplanade Theatre, Singapore
Nonton dengan teman gereja

Selain musical-musical di atas, dalam masa2 pelayanan di NTU CF, sempat ikut dalam beberapa musicals.
The Prodigal Son 1998
The Irony 1999

Ada juga beberapa opera yang sudah pernah ditontonin:
Madamme Butterfly 2001, karya Puccini
Tosca 2001, karya Puccini

Cantata and Oratorio that I performed:
Handel's Messiah, GPBB Christmas 2004
Mendelssohn's St Paul, SSO-SSC Performance
Beethoven's Symphony no. 9, SSO-SSC Performance
Mahler's Symphony no. 8, SSO Gala Concert 29-30 May 2004
Tom Fettke's Once and For All, GPO-GPBB Easter 2002
David T. Clydesdale's I stand in awe, GPBB Easter 2006

Labels: ,

Monday, April 02, 2007

Phantom of the Opera

Musical Title: Phantom of the Opera
Venue: Singapore Esplanade Theatre
Time: Sunday, 1st April 2007

Hari ini nonton Phantom of the Opera bersama dengan teman2 dari BB. PO adalah musical yang saat ini longest running di broadway, sudah main selama 12 tahun non-stop, selasa sampai minggu selama 12 tahun berturut2, sehingga tahun lalu memecahkan rekor daripada Les Miserables. Dua-duanya adalah Musical kelas berat dibawah producer Cameron Mackinson dan penulis lagu yang sama: Andrew Lloyd Webber sih.

Baru balik dari Korea, kata kolega2 yang di korea, ketika PO tampil di Seoul, harga tiket paling murah itu 150 USD. Syukur deh, di SG harganya ga semahal itu. Malam ini nonton ber-11, harga tiket 87.5 SGD, agak mahal, tetapi masih terjangkau. Waktu di US itu nonton cuma 30 USD (atau 20 USD, lupa), lebih murah lagi.

Overall, musical ini tetap bagus. Tetapi karena sudah pernah nonton di US, dan 2 tahun yg lalu sudah nonton filmnya, dan lagu2nya juga sudah agak familiar, jadi tidak ada perasaan 'wah' seperti ketika nonton musical yang lain (rent, oliver, miss saigon, mamamia, wedding banquet, forbidden city)

Partly, kenapa saya ga bisa enjoy, karena juga kondisi hati yang belum stabil. Saya mencoba untuk mengatasinya, tetapi tetap saja tidak bisa. Tadinya saya kira, saya sudah bisa keluar dari lingkaran ini, tetapi ternyata untuk melepaskan diri dari perasaan sedih seperti ini sangat susah.
Semoga, di minggu2 yang akan datang, saya akan bisa menghadapi masalah ini dengan lebih baik.... semoga...

Labels: ,

Tuesday, January 02, 2007

Rent - The Musical

Tahun Baru.... 2007

Tidak banyak melakukan apa2 hari ini, karena lebih banyak tidur seharian. Kan kemaren malam ga tidur sama sekali. Syukur ga sakit :)

Malamnya nonton DVD judul Rent - The Musical.

Rent adalah hasil karya Jonathan Larson, seorang peraih Pulitzer di New York. Sepanjang hidupnya, dia seperti artist2 lainnya, struggle untuk menjadi seorang yang diakui di daerah broadway. Sampai akhirnya karya "Rent" ini laku dijual, tetapi justru sehari sebelum hari pementasan perdananya, Jonathan Larson meninggal dunia.

Rent adalah satu musical modern, yang menampilan kehidupan para artist di daerah broadway, NY (seperti Jonathan sendiri). Digambarakan bagaimana mereka struggle menghadapi kelaparan, kedinginan, narkoba dan AIDS yang sangat real, dan bagaimana suatu hubungan persahabatan itu begitu berarti buat para penderita narkoba dan AIDS tersebut.

Bulan Februari 2006 yang lalu, ketika ditugaskan ke NY, saya sempat mampir ke Netherlander Theater dan menonton Musical ini langsung. Gak begitu ngerti sih waktu itu, karena kurang bisa menangkap kata2 inggris yang dinyanyikan. Baru benar2 mengerti setelah membaca subtitles di DVD ini.

Ketika seseorang menonton Musical ini, hendaklah jangan dihakimi tentang mereka yang terlalu open. Yang bisa kita ambil sebagai orang kristen adalah semua penderita AIDS/narkoba itu juga manusia, yang patut kita kasihi, yang Tuhan kasihi. Ketika ada seorang di antara kita yang jatuh, apakah kita mengulurkan tangan kasih kita, sebagai perwujudan kasih Tuhan, atau kita malah melempar batu dan menghakimi? Seperti kasus Ted Haggard, apakah kita bisa mengasihi apakah dia itu manusia yang juga bisa jatuh dalam dosa seperti kita?

Apakah ketika saya sendiri jatuh dalam dosa, ada yang bisa menerima saya selain Kristus?

Labels: ,

 

Free Blog Counter